Monday, 13 March 2017

Jenis-Jenis Primata Yang Aku Jumpai di SM Bukit Rimbang Bukit Baling


Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling merupakan dataran kaki Bukit Barisan yang memanjang dari Utara ke Selatan Pulau Sumatera yang terletak di sebelah barat Provinsi Riau dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat serta berada di dua wilayah kabupaten yakni Kabupaten Kuantan Sengingi dan Kabupaten Kampar. SM Bukit Rimbang Bukit Baling berada di wilayah  Seksi Konservasi Wilayah  I BBKSDA Riau dengan luas  141.226,25 Ha. (BBKSDA Provinsi Riau). 
Untuk mencapai lokasi dari Kota Pekan Baru ke SM Bukit Rimbang Bukit Baling kita dapat menggunakan kendaraan Roda 2 dan Roda empat dengan jarak kurang lebih 102 km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 - 3 jam perjalanan. SM Bukit Rimbang Bukit Baling juga merupakan salah satu hutan hujan dataran rendah dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi baik Flora maupun Fauna, salah satunya dari kelompok Prtimata. 

Pertama kali saya ke SM Bukit Rimbang Bukit Baling pada bulan Agustus 2016 waktu melakukan pemetaan potensi desa di sekitar SM Bukit Rimbang Bukit Baling, disela-sela pemetaan ini lah saya menyempatkan pengamatan primata, adapun jenis-jenis primata yang dijumpai yaitu, Symphalangus syndactylus, Hylobates agilis, Macaca nemestrina, Macaca fascicularis, Trachypithecus cristatus dan Presbytis sp.

Dalam Tulisan ini saya akan mengelompokkan jenis-jenis Primata ini berdasarkan setatus Red List IUCN.

Kelompok dengan Setatus Endangered (EN) :
1. Siamang (Symphalangus syndactylus)  

Siamang digambarkan sebagai jenis owa raksasa. Ukuran tubuhnya dapat mencapai satu meter dengan berat 14 kg, dua kali ukuran tubuh dari jenis owa lainnya, meski masih tetap lebih kecil dari ukuran kera besar lain seperti orangutan dan simpanse. Siamang dikelompokkan sebagai owa (gibbons) dari famili Hylobatidae, namun memiliki genus mereka sendiri, yaitu Symphalangus.
Tidak hanya berbeda dalam bentuk ukuran, siamang adalah satu-satunya keluarga owa yang memiliki kantung tenggorokan yang dapat digembungkan, yang disebut gular, mirip dengan yang dimiliki oleh burung frigate, beberapa jenis belibis dan katak. Ketika sampai pada titik maksimalnya, gular dapat lebih besar dari ukuran kepala siamang. Gular berguna untuk memberi dorongan (semacam bag pipe) yang secara signifikan meningkatkan volume kekerasan suaranya. (Mongabay 2015).
Beberapa Faktor Siamang ini menjadi hewan terancam punah, pertama hilangnya habitat Siamang seperti perubahan tutupan hutan menjadi perkebunan, dan pertambangan. Kedua Siamang ini banyak ditangkap untuk diperjual belikan kepada oknum-oknum yang suka memelihara satwa liar. Selain di Indonesia Siamang juga terdapat di Negara Malaysia dan Tailand, di Indonesia sendiri Siamang ini hanya terdapat di Pulau Sumatera.

2. Owa Ungko (Hylobates agilis)
 

Owa Ungko termasuk jenis Owa yang terkecil ukurannya; berat rata-rata hewan jantan sekitar 5,8 kg, sementara betinanya sekitar 5,4 kg.Warna rambut di tubuhnya bervariasi mulai dari bungalan (cokelat kekuningan pucat), jingga kemerahan, cokelat kemerahan, cokelat, atau kehitaman. Sebagaimana halnya owa kalimantan, owa ungko memiliki alis dan berewok (cambang/rambut pipi dan jenggot) berwarna keputihan. Pada beberapa kondisi, betina owa ungko dapat kehilangan atau berkurang warna putih di alis dan pipinya.
Anak jenis agilis memiliki alis dan berewok putih yang menyambung, melingkari wajah yang berwarna hitam secara penuh. Anak jenis unko memiliki alis dan jenggot yang terputus, diseling oleh warna gelap; sementara putih alis dan berewoknya agak berwarna krem atau kecokelatan kotor.
Faktor penyebab terancam punah, pertama hilangnya habitat  seperti perubahan tutupan hutan menjadi perkebunan, dan pertambangan. Kedua Owa ini banyak ditangkap untuk diperjual belikan kepada oknum-oknum yang suka memelihara satwa liar.

Kelompok dengan status Vulnerable (VU) :
Beruk (Macaca nemestrina)
 
Beruk hidup dalam satu kelompok besar yang terbagi menjadi beberapa kelompok yang lebih kecil selama mencari makan di siang hari. Beruk adalah binatang omnivora. Makanan Utama Beruk adalah buah-buahan, biji-bijian, jamur, dan binatang invertebrata.


Dalam kelompok beruk, ada sebuah susunan kasta. Beruk jantan akan terbagi-bagi kedudukannya berdasarkan kekuatannya, sedangkan beruk betina berdasarkan keturunannya. Anak betina dari beruk betina yang dominan akan memiliki kedudukan yang di atas semua betina lainnya dalam satu kelompok. Beruk betina yang dominan akan memimpin grup tersebut, sedangkan pejantan lebih berfungsi sebagai peredam jika terjadi konflik dalam kelompok tersebut. 
Di beberapa tempat Beruk ini dijadikan hewan peliharaan yang dimanfaatkan untuk memanen buah kelapa dan Durian.
Spesies ini ditemukan di Brunei, Indonesia (Bangka, Borneo Kalimantan, dan Sumatera), Malaysia (termasuk Semenanjung Melayu dan Sabah dan Sarawak Borneo), dan selatan Semenanjung Thailand.
Spesies ini terdaftar di bawah CITES Appendix II. Penelitian lebih lanjut diperlukan dalam distribusi, kelimpahan, dan ancaman terhadap spesies ini.

 Kelompok dengan Setatus Near Threatened (NT)
Lutung Kelabu (Trachypithecus cristatus)

Lutung Kelabu  adalah sejenis lutung berukuran sedang, dengan panjang sekitar 58 cm. Lutung Kelabu memiliki rambut tubuh berwarna hitam dengan ujung warna putih atau Kelabu. Mukanya berwarna hitan tanpa lingkaran putih di sekitar mata dan rambut di atas kepalanya meruncing dengan puncak ditengahnya. Seperti jenis lutung lainnya, lutung ini memiliki ekor yang panjang, berukuran sekitar 75cm. 

Lutung jantan dan betina serupa. Betina biasanya berukuran lebih kecil dan ringan di banding jantan. Ketika baru lahir, bayi lutung memiliki rambut tubuh berwarna jingga. Setelah berumur tiga bulan, rambut warna jingga ini digantikan dengan rambut tubuh hitam seperti lutung dewasa.

Lutung Kelabu adalah hewan arboreal, yang hidup di atas pepohonan. Makanan pokoknya terdiri dari tumbuh-tumbuhan. Memakan dedaunan, buah-buahan serangga.

Lutung Kelabu hidup berkelompok. Di dalam satu kelompok terdiri dari sekitar sembilan sampai tigapuluh ekor lutung, termasuk satu lutung jantan dewasa dan lutung-lutung betina yang secara komunal membesarkan anak lutung. Lutung jantan dewasa melindungi kelompok dan wilayahnya dari lutung jantan lainnya.

Lutung Kelabu memiliki daerah sebaran yang cukup luas, namun hilangnya habitat hutan dan penangkapan liar yang terus berlanjut mengancam keberadaan spesies ini. Lutung Kelabu dievaluasikan sebagai hampir terancam di dalam IUCN Red List.

Kelompok dengan setatsu Least Concern (LC)   
Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).
 

Macaca fascicularis dinamakan sebagai monyet ekor panjang karena memiliki ekor yang panjang. Panjang ekor monyet ini antara 80-110% dari total panjang kepala dan tubuh. Ukuran tubuh jantan memil iki panjang 412-648 mm dengan bobot badan 4,7-8,3 kg, sedangkan betina mempunyai panjang 385-503 mm dan bobot badan 2,5-5,7 kg. Ekor berbentuk silindris dan muskular serta ditutupi oleh rambut. Monyet Ekor Panjang memiliki warna bulu yang bervariasi dari coklat muda, kelabu sampai coklat. Variasi ini terjadi berdasarkan pada umur, musim dan lokasi. Monyet ekor panjang yang menghuni kawasan hutan umumnya berwarna lebih gelap, sedangkan yang menghuni daerah pantai umumnya berwarna lebih terang dan lebih mengkilap (Lekagul dan McNeely, 1977).
Monyet ekor panjang ini sangat adaptif dan termasuk hewan liar yang mampu mengikuti perkembangan peradaban manusia. Selain menjadi hewan timangan atau pertunjukan, monyet ini juga digunakan dalam berbagai percobaan kedokteran.
 
Monyet kra umum ditemukan di hutan-hutan pesisir (Mangrove, hutan pantai), dan hutan-hutan sepanjang sungai besar; di dekat perkampungan, kebun campuran, atau perkebunan; pada beberapa tempat hingga ketinggian 1.300 m dpl. Jenis ini sering membentuk kelompok hingga 20-30 ekor banyaknya; dengan 2-4 jantan dewasa dan selebihnya betina dan anak-anak.
Monyet Ekor Panjang ini memakan aneka buah-buhan dan memangsa berbagai jenis hewan kecil seperti ketam, Serangga, telur dan lain-lain. dibeberapa tempat kelompok monyet ini memakan tanaman di kebun dan menjadi hama.
Kusus jenis yang terakhir saya jumpai ini sedikit menarik perhatian dan menjadi bahan diskusi bersama teman-teman dilapangan, sampai saat ini masih menjadi tanda tanya apakah jenis ini adalah Presbytis siamensis ssp. cana atau Nokah (Presbytis melalophos). 
Jika dilihat dari ciri-cirinya sekilas jenis ini mirip dengan Presbytis natunae, namun apabila dipelajari dari literaure Presbytis natunae merupakan primata endemik pulau Natuna,
adapun ciri-ciri primata ini bagian hidung berwarna merah jambu / pink bagian dada berwarna putih pudar, bagian tubuh belakang kehitam-hitaman dan bagian kacamatanya berwarna biru kegelap-gelapan. 
Dan pendugaan pertama jenis ini merupakan Presbytis siamensis ssp. cana sub spesies Presbytis siamensis berdasarkan referensi Red List IUCN http://www.iucnredlist.org/details/39822/0.
nama lain dari Presbytis siamensis ini adalah Lyon’s Pale-thighed Langur, Riau Pale-thighed Surili.











Silahkan di koreksi jika salah identifikasinya Presbytis siamensis ini.






No comments:

Post a Comment